JAKARTA – Penyakit metabolik kronis terus menunjukkan dampak sekunder yang sangat destruktif namun kerap tidak disadari oleh para penderitanya. Asosiasi dokter spesialis mata (oftalmologi) Indonesia memperingatkan publik bahwa lonjakan insiden diabetes melitus dan hipertensi di Tanah Air kini berbanding lurus dengan peningkatan kasus kerusakan saraf optik dan retina yang bersifat permanen.
Kondisi yang dikenal sebagai Retinopati Diabetik dan Retinopati Hipertensif ini sering kali disebut sebagai "komplikasi senyap" karena merusak pembuluh darah mikro di dalam mata secara perlahan tanpa menimbulkan gejala rasa sakit. Pada saat pasien mulai merasakan pandangan yang kabur atau adanya bercak hitam dalam penglihatan, kerusakan yang terjadi umumnya sudah berada pada tahap stadium lanjut dan sangat sulit untuk dikembalikan ke kondisi normal.
Oleh karena itu, para tenaga medis secara agresif mengampanyekan pentingnya deteksi dini. Masyarakat luas—terutama yang memiliki riwayat gula darah dan tekanan darah tinggi—diimbau untuk tidak hanya rutin memantau parameter metabolik mereka, tetapi juga wajib melakukan skrining funduskopi retina minimal satu tahun sekali demi mencegah risiko kebutaan permanen di masa tua.