JAKARTA – Sebuah laporan riset ekonomi kesehatan di kawasan regional baru-baru ini mengungkap sebuah fakta yang mengejutkan: Indonesia saat ini menduduki peringkat kedua sebagai negara dengan beban biaya perawatan dental (kedokteran gigi) tertinggi di Asia Tenggara. Mahalnya biaya prosedur kuratif ini memicu perdebatan luas terkait aksesibilitas kesehatan gigi bagi masyarakat menengah ke bawah.

Tingginya beban finansial untuk tindakan perawatan seperti penambalan komposit, perawatan saluran akar, hingga pemasangan prostetik gigi ditengarai dipengaruhi oleh tingginya pajak alat kesehatan impor dan bahan baku dental. Akibatnya, banyak masyarakat yang terpaksa menunda penanganan medis hingga kondisi gigi sudah parah atau mengalami infeksi akut yang berujung pada pencabutan.

Menyikapi fenomena struktural ini, Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) mendesak adanya reformasi kebijakan untuk menekan harga bahan baku medis. Di saat yang bersamaan, para praktisi juga diinstruksikan untuk merombak strategi pendekatan kepada pasien, yakni dengan lebih memprioritaskan edukasi sikat gigi yang benar, perawatan kebersihan rongga mulut sedari dini, serta tindakan preventif di tingkat fasilitas kesehatan primer guna menekan angka kesakitan gigi secara nasional.